Refleksi reading group 23 Januari 2026
Diskusi dalam reading group ini membuka kembali jurang yang sudah lama terasa namun sering tidak diakui secara jujur, yaitu jarak antara idealisme keberlanjutan, praktik arsitektur sehari-hari, dan realitas di lapangan. Di satu sisi, arsitek dan praktisi membawa gagasan besar tentang sustainability. Di sisi lain, klien dan pengguna bangunan sering kali tidak memiliki pemahaman, kepedulian, atau ruang untuk terlibat dalam diskursus tersebut. Akibatnya, keberlanjutan kerap berhenti sebagai narasi internal profesi dan belum menjadi pengalaman nyata yang dirasakan oleh manusia.
Pembahasan mengenai sertifikasi seperti GBI atau Greenship menegaskan kegelisahan ini. Alih-alih menjadi alat transformasi, metrik keberlanjutan sering kali terjebak sebagai alat pemasaran. Simbol hijau menjadi penanda citra, bukan perubahan yang substansial. Fokus pada skor dan checklist membuat keberlanjutan kehilangan kedalaman, terutama dalam menyentuh pengalaman manusia sehari-hari. Padahal, jika sustainability ingin bermakna, ia seharusnya hadir dalam kualitas ruang, kenyamanan, kesehatan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya, bukan semata dalam angka teknis.
Diskusi juga menyinggung relasi antara kesejahteraan ekonomi dan kemajuan masyarakat. Keberlanjutan tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial ekonomi. Isu lingkungan sering terasa abstrak ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi. Oleh karena itu, diperlukan pemicu yang lebih nyata dan dapat dirasakan langsung. Pendekatan keberlanjutan perlu dikaitkan dengan manfaat konkret seperti penghematan biaya, peningkatan kesehatan, atau kualitas hidup yang lebih baik. Di titik ini, arsitektur memiliki potensi untuk menjembatani isu global dengan realitas keseharian masyarakat.
Salah satu refleksi penting yang muncul adalah bagaimana pengalaman manusia sering terabaikan dalam percakapan tentang sustainability. Diskursus keberlanjutan cenderung teknokratis, sementara arsitektur sejatinya merupakan praktik yang sangat manusiawi. Pertanyaan mendasar pun muncul mengenai posisi sustainability dalam arsitektur. Apakah ia sekadar nilai tambah dalam praktik arsitektur yang bersifat komersial, atau justru menjadi landasan etis dari praktik tersebut. Perbedaan cara pandang ini menjelaskan mengapa penerapan keberlanjutan masih sangat beragam dan kerap menimbulkan ketegangan.
Diskusi juga memunculkan refleksi kritis mengenai siapa yang sebenarnya menjadi “musuh bersama”. Apakah persoalan utama terletak pada pihak lain seperti pekerja konservasi, atau justru pada kita sendiri sebagai pelaku di lingkungan binaan yang terus mengonversi lahan dan mengonsumsi material. Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab kolektif dalam krisis lingkungan.
Di tengah berbagai keterbatasan, diskusi ini mengajak untuk kembali pada sikap “seadanya” dan “sebisanya”. Keberlanjutan tidak selalu harus hadir dalam solusi besar dan ideal, tetapi juga melalui keputusan-keputusan kecil yang konsisten. Dalam konteks krisis iklim saat ini, berpikir jangka panjang bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Arsitektur, dengan segala keterbatasannya, tetap memiliki peran penting dalam membentuk masa depan yang lebih bertanggung jawab, selama keberlanjutan dipahami sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar label.
Contributor:
Madina Arifah
madina.afh@gmail.com